Oleh: diani03 | Februari 8, 2008

Artikel populer

Dari Telur Rebus sampai Petir
Tjandra Dewi

Peserta Olimpiade Fisika Internasional Ke-37 di Singapura mulai berlaga kemarin. Sebanyak 386 peserta harus mengikuti ujian teori, salah satu penentu kemenangan. Para peserta–termasuk Jonathan Pradana Mailoa, Andy O. Latif, Pangus Ho, M. Firmansyah Kasim, dan Irwan Ade Putra dari Indonesia–menghadapi soal dari energi yang dihasilkan petir sampai perhitungan merebus telur.

Tiga peserta, yakni Andy, Pangus, dan Firmansyah, menganggap semua soal standar saja, tidak terlalu sulit karena semua materi telah mereka terima selama pelatihan. “Ya, lumayan, bisa saya kerjakan semua,” kata Pangus.

Hanya Irwan Ade Putra yang agak pesimistis dengan jawaban yang ia buat. “Saya kurang yakin dengan beberapa jawaban,” ujar Irwan, peraih emas pada ajang serupa tingkat Asia.

Bukan hanya Irwan yang mengalami kesulitan mengerjakan soal ujian ini. Beberapa peserta dari negara lain juga mengaku soal yang diberikan amat sulit. Nyrhila Niko, pelajar dari Finlandia, keluar dari ruang ujian setengah jam lebih cepat dari waktu yang disediakan. “Saya sudah tidak bisa mengerjakannya lagi. Ada soal yang tak saya kerjakan.”

Lain lagi dengan peserta asal Cina, Wang Xingze. Peraih medali emas APhO Ke-7 di Kazakhstan itu menganggap soal Olimpiade ini lebih mudah daripada Olimpiade Asia. Dia optimistis semua soal bisa dikerjakannya dengan benar. “Tidak lebih sulit,” ujarnya.

Cina dianggap lawan paling berat oleh para peserta Indonesia. Negara lain yang juga dianggap berpeluang bagus adalah Taiwan dan Hungaria.

Pertandingan dimulai pukul 08.00 waktu setempat di aula olahraga National Institute of Education. Ketegangan terpancar dari wajah beberapa siswa. Selama ujian berlangsung, beberapa peserta harus bolak-balik ke kamar kecil sambil berlari diiringi panitia. Selama lima jam mereka diminta mengerjakan tiga soal.

Soal pertama tentang interferensi neutron dan kedua tentang kamera pinhole untuk memotret batang bergerak, yang menggunakan teori relativitas.

Sedangkan soal ketiga ada lima soal terpisah. Mulai pengukuran temperatur di atas gedung akibat sinar matahari dan perbedaannya dengan temperatur di dasar serta nilai numeriknya sampai penghitungan berapa lama telur rebus matang.

“Petir itu berapa energinya, dan jika dibagikan ke seluruh orang di dunia, energinya bisa untuk menyalakan lampu berapa lama,” kata Pangus. “Semua soal cukup menarik, tentang kehidupan sehari-hari.”

Andy mengatakan, meskipun pertanyaannya tak terlalu sulit, perlu ekstrahati-hati untuk menjawab setiap soal. “Sekali salah di awal, kesalahannya merembet ke soal berikutnya,” kata pelajar kelahiran Pamekasan ini.

Ujian ini amat menentukan karena poinnya 60 persen dari total nilai. Sisanya, 40 persen, berasal dari ujian eksperimen pada Rabu mendatang.

Dalam ujian eksperimen nanti, mereka harus memecahkan materi yang diberikan. Misalnya soal yang keluar dalam Olimpiade Fisika Asia Ke-7 di Almaty, Kazakhstan, April lalu, yakni menghitung jari-jari lubang dalam sebuah kubus. Mereka harus mencari cara untuk mengukurnya seakurat mungkin.

Juri dari Singapura, negara penyelenggara, akan menentukan penilaian ini. Hasil penilaian ini akan dibawa ke dalam international board meeting untuk menentukan hasil akhir masing-masing peserta.

Dalam pertemuan dewan ini, tim pemimpin dari negara peserta dapat mengajukan usul untuk meningkatkan nilai ataupun mengajukan keberatan atas nilai yang diberikan tim juri. Dalam moderasi ini, nilai peserta bisa naik atau justru turun.

Sumber : Koran Tempo (11 Juli 2006)


Beri tanggapan

Your response:

Kategori