Oleh: diani03 | Juni 1, 2008

Dalam Sebuah Keikhlasan…

Bismillahirrahmanirrahiim.

Sepasang suami istri yang telah mengarungi rumah tangga dalam waktu yang lama bukanlah suatu perkara yang mudah. Bergagai Halangan , rintangan dan masalah telah menerpa biduk yang sedang ditumpangi 2 orang anak manusia.. Sepasang suami istri, yang dimulai dengan dua individu yang berbeda, berasal dari “perut ibu” yang berbeda, pendidikan keluarga yang berbeda, kultur budaya yang berbeda sifat dan kebiasaan yang berbeda dipertemukan dalam suatu ikatan yang suci bernama “PERNIKAHAN”.

Pernikahan adalah suatu ibadah. Sebelum memilih dan memastikan diri untuk menikah dengan seseorang tentunya sudah melalui berbagai macam ikhtiar hingga memutuskan untuk menikah. Bukan perkara yang gampang mengakhiri masa “lajang” dan mengikatkan diri dengan seseorang yang diri kita sendiri belum tahu apakah ianya adalah jodoh kita. Namun, jika sudah terjadi suatu pernikahan yakinkanlah pada diri bahwa suami atau istri kita adalah JODOH KITA.

Memang bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk mempertahankan suatu hubungan antara dua individu berbeda yang dimaksud disini yaitu SUAMI-ISTRI. Kalaupun ada persamaan itu hanya sedikit saja dari berbagai macam perbedaan yang ada. Dan bukan jaminan bahwa persamaan itu akan menguatkan hubungan yang telah terjalin. “Inna mal ‘amalu binniyah”, segala sesuatu perbuatan itu berawal dari niat. Jika niat untuk menikah tidak berdasarkan ibadah kita kepada Allah, maka siap-siaplah menanggung akibat atas perbuatan kita.

Keputusan menjadi suami atau istri atas seseorang juga dibutuhkan keikhlasan, tidak hanya sekedar niat melaksanakan ibadah. Ibadah dilakukan karena suatu kebutuhan kita sebagai makhluk akan Allah Sang Khalik untuk tempat menyandarkan hati dan jiwa, sekaligus tempat memohon pertolongan dan perlindungan. Dan ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang makhluk, dan harus selalu mencontoh setiap perbuatan dan ucapan Rasulullah SWT dalam beribadah.

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan dien(agama) kepadaNya, dengan mentauhidkanNya.” (Al Bayyinah 5)

Ikhlas adalah meniatkan ibadah hanya untuk mengharapkan keridhoaan dan perhatian Allah semata dan tiada tujuan lain selain darinya. Menikah adalah suatu ibadah dan dilandasi keikhlasan untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Jika pernah terlontar rasa ketidak puasan terhadap pasangan dan ingin mengakhiri hubungan berarti pernikahan yang dijalani bukan berlandaskan keikhlasan beribadah. Apalagi belum dilakukan usaha atau ikhtiar untuk menutupi kekurangan pasangan dan tiba-tiba berencana untuk mengakhiri hubungan. Segala sesuatu yang dilakukan oleh pasangan suami istri untuk melanggengkan pernikahannya juga adalah suatu ibadah. Dan segala usaha itu merupakan hal dalam rangka menggenapkan sebagian ibadah agamanya.

Janganlah kita meremehkan keikhlasan dan melalaikannya. Pada hari kiamat kelak orang-orang yang lalai akan mendapatkan bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan mereka berubah menjadi keburukan. Ibadah tidak diterima Allah, dan akhirnya mendapat balasan berupa siksa api neraka.

“Katakanlah, maukah Kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka ? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Al Kahfi 103-104).

Bersabarlah dalam mempertahankan hubungan pernikahan dan selalu ikhlas menerima kekurangan pasangan dan berusaha menuju kebaikan dunia akhirat. Sesungguhnya dunia ini fana dan hanya sebentar sedang akhirat itu kekal. Bersabarlah dan ikhlaslah selama di dunia, karena kita tidak akan mampu bersabar dengan siksa api neraka walaupun sebentar.

———————————-
Nb: Afwan jika tulisan ini terkesan menggurui, padahal saya sendiri belum melakukan ibadah yang dimaksud. Tulisan ini terukir berdasarkan pengalaman pribadi. Dan menjadikan peristiwa itu sebagai cemeti bagi diri. Insya Allah.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori