Oleh: diani03 | Oktober 4, 2009

Hidupkan Cinta dengan Panggilan Sayang

DALAM hidup berumah tangga, apalagi ketika usia perkawinan yang sudah lama, sering kali pasangan merasakan kejenuhan. Jika sudah begitu, masalah yag sepele akan dianggap serius oleh salah satu pihak, dan pertengkaran pun terjadilah.

Sebenarya banyak cara pasangan suami istri untuk memperbaiki atau menghangatkan kembali hubungan dalam perkawinannya. Mungkin saja pasangan merencanakan kembali bulan madu kedua, atau sekadar pergi menonton berdua.

Namun untuk mempererat hubungan suami istri atau memberi makna istimewa terhadap hubungan tersebut bisa juga dengan cara yang terlihat lebih sederhana. Salah satunya adalah dengan menggunakan panggilan sayang terhadap pasangan, seperti layaknya orang yang sedang berpacaran.

Panggilan sayang suami terhadap isteri atau isteri terhadap suami, ternyata memberi dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan berumah tangga. Bagi pasangan suami isteri (pasutri) yang baru menikah, panggilan sayang akan lebih mendekatkan satu sama lain. Hubungan keduanya pun akan terasa tanpa jarak yang kaku. Sedangkan bagi pasutri yang sudah lama berumah tangga, panggilan sayang dapat menghidupkan kembali cinta yang mungkin sudah terasa sangat biasa. Akan tetapi dalam menentukan panggilan sayang itu ada beberapa hal yang hendaknya diperhatikan.

Psikolog Dra. Selly Mahliyani, S.Psi. dari Rumah Sakit Al Islam Bandung menyatakan, paling tidak ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan pada saat pasutri akan memberi panggilan sayang kepada pasangannya.

Pertama, panggilan sayang untuk suami, sebaiknya gunakan nama yang lebih memberi kesan respek pada pria. Pasalnya, kata Selly, pria berbeda dengan wanita. Pria lebih senang dengan panggilan nama yang merujuk pada kepemimpinan, pelindung, dan pemberi rasa nyaman. Sedangkan perempuan yang katanya lebih peka perasaannya justru senang dengan nama-nama panggilan yang mengesankan cinta seperti “honey”, “sayang”, “cinta”, dll.

Kedua, perhatikan kultur pasangan. Ada beberapa kultur tertentu yang justru kurang menerima bila seseorang, terutama suami dipanggil dengan sebutan nama. Contohnya dalam kultur Sunda dan Jawa. Keduanya sangat jarang memanggil pasangan dengan sebutan nama langsung. “Kesan yang muncul terlalu berani, kurang sopan,” ujar Selly menjelaskan.

Kendati demikian, ada beberapa pasangan — biasanya dari kalangan pasangan muda– yang justru merasa lebih egaliter dengan cara memanggil nama pasangan masing-masing. “Tapi kalau memanggilnya di depan anak-anak kan sepertinya kurang sopan,” ujar Selly yang mewanti-wanti harus memerhatikan betul masalah panggilan sayang ini.

Tidak melecehkan

Ada beberapa pasangan yang menggunakan panggilan sayang dengan nama-nama yang terkesan melecehkan secara fisik. Seperti “Ndut”, “Jahe” (raja hees atau jago tidur), dll. Panggilan-panggilan seperti itu menurut Selly, harus dibuang jauh-jauh. Karena justru akan menjatuhkan satu sama lain. “Tidak ada lagi penghargaan dan ungkapan sayang,” ujarnya tegas.

Menurutnya, panggilan sayang suami isteri sudah dicontohkan Rasulullah Saw kepada Aisyah. “Karena Aisyah pipinya selalu tampak kemerahan, maka Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Khumaira. Walau berkenaan dengan fisik tetapi ada kesan sayang,” ujar Selly.

Panggilan sayang, kata Selly, bukan saja dapat menghidupkan kembali cinta yang mungkin sudah mulai “redup”. Tetapi juga dapat menguatkan ikatan pernikahan. Bahkan, dalam panggilan sayang juga terdapat semacam afeksi sehingga satu sama lain akan merasa lebih nyaman bila pasangannya memanggil dengan panggilan sayang tersebut.

“Apalagi penghargaan. Nama itu kan identik dengan penghargaan. Bila nama yang disebutkan itu adalah panggilan sayang, maka seseorang bukan saja akan merasa dilindungi, nyaman, tetapi juga merasa dihargai,” imbuhnya.

Selain ungkapan-ungkapan cinta dan kasih sayang, panggilan sayang juga dapat diambil dari peristiwa-peristiwa atau sejarah perjalanan cinta pasangan yang paling berkesan dan berarti. Misalnya saat pertemuan pasangan itu Juni, pasutri tersebut bisa memanggil suaminya dengan sebutan Juni atau lainnya.

Pokoknya, kata Selly, panggilan-panggilan itu harus menumbuhkan penghargaan satu sama lain. Sehingga pada saat nama itu disebutkan, setiap pasangan akan merasakan cinta selalu tumbuh, bahagia, dan nyaman berada di sampingnya.

Nah, apakah Anda sudah mempunyai nama panggilan sayang untuk pasangan? Jika belum, ingat-ingatlah lagi apa momen paling spesial pasangan Anda. Siapa tahu dengan Anda memberi nama baru kepada pasangan, cinta Anda terhadap si dia akan kembali tumbuh atau bahkan menghangat selamanya. Sumber: (Eriyanti/”PR”)***

Oleh: diani03 | Oktober 4, 2009

..::10 KRITERIA CALON SUAMI IDAMAN::..

Setiap kali aku ditanya tentang kriteria pasangan hidup yang aku dambakan, 10 poin berikut ini takkan ada yang luput :

  1. Cerdas. Bukan berarti pintar di atas kertas, tapi dia bisa beradaptasi di lingkungan manapun dia berada, nyambung diajak ngobrol apa saja. Kalaupun dia belum ngikutin perkembangan tentang topik yang dibicarakan, dia ga berusaha untuk sok tahu. Kalau handsome tapi ga nyambung … tidak lah ya……… !!! Smart can make someone look handsome but handsome cant make someone look smart.
  1. PD (bukan berarti narsis). Ini ga boleh ditawar-tawar karena yang Aku alami selama ini para lelaki mundur hanya dikarenakan alasan yang dicari-cari karena faktor ketak-pede-an mereka. Pokoknya kalau co dah bilang gini aja “pendidikan kamu lebih tinggi dari aku”, atau “Teman-teman kamu banyak orang penting sementara aku…. “, atau “Pendidikan agamaku masih jauh dibanding kamu…” rasanya Aku langsung lemez deh. Gimana mau jadi imam yang bisa ngarahin istri kalau hal-hal remeh tersebut jadi hal besar untuk diungkapkan. Allah ga nyari master kok untuk buat masuk syurga hahaha… kenapa jadi sewot ama status pendidikan sendiri? Gara-gara cowok nih…hihihihi….
  1. Berwawasan Islam… Bukan berarti dia harus hafal Sejarah Islam atau seabrek teori tentang ke Islaman. Orang yang berwawasan Islam, akan semati-matinya untuk ga ngerjain apa yang ga disuka Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk ngerjain yang disuka Allah. Tau darimana ? Dari attitudenya donk… Tiap manusia kan diberi “chip” bernama nurani oleh Allah. Makanya, ga ada manusia yang suka ama perbuatan jelek seperti “merampok” sekalipun dia seorang perampok. Coba tanya perampok deh… Hii… engga lah ya…. Aura positifnya akan lebih menonjol dibanding aura negatifnya karena kita tahu nobody’s perfect, jadi pasti ada sifat negative dan positive … Dia ngerti tugasnya ga hanya jadi imam di dunia tapi juga sampai akhirat. Jadi terlihat sulit klo cuma dipikirin. Serem lo klo cuma tau teori dan kaku dalam aplikasinya. Banyak tuh teman Aku yang nikah ama aktivis dakwah “menjerit” karena suami nya menerapkan aturan “istri harus di rumah saja”. Siti Khadijah ketemu Rasulullah di saat jadi saudagar (pedagang, red) kok….dan aku belum nemu buku yang bilang klo bunda Khadijah berhenti berdagang setelah menikah. Hmm…? (ada ga sih ?)
  1. Humoris. Ga kebayang deh, Aku yang segini talkactive and jail tiba-tiba harus berdampingan seumur hidup ama orang yang ga punya selera humor dan kaku. Wah bisa serasa di kuburan kali .. ???….Tapi humornya juga harus cerdas… bukannya diada2in dan akhirnya garing atawa konyol. Ketawa bareng tentunya lebih seru daripada ketawa sendiri. Jangan sampe dia hebring sendiri juga, ga lucu juga ketawa.
  1. Dewasa. Orang yang berwawasan Islam, Cerdas, PD dan humoris belum tentu dewasa, makanya ini menjadi poin tersendiri. Dewasa bukan masalah umur tapi lebih cenderung kepada respon seseorang ketika menghadapi sesuatu. Orang yang dewasa biasanya lebih mampu mengontrol emosi. Ini penting banget, karena aku sering muncul sifat kekanak-kanakannya hehehehe.. makanya awet muda kali ya ?
  1. Gaul yang terarah. Aku pengen banget punya soulmate yang ga milih-milih teman (tentu aja harus dipilah… yang membawa kepada kemudharatan berarti bukan teman). Aku punya seabrek teman dan Aku ingin dia juga ikut bahagia karena akhirnya punya banyak teman juga. Gitupun Aku, Aku akan sangat bahagia bila dikenalkan ama teman-temannya yang seabrek. Untuk meluaskan silaturahmi jadi kerja yang mudah kan? Tinggal aja saling diperkenalkan… Kebayang serunya….!! Kalau dia punya banyak teman, artinya juga dia tak akan asal cemburu, ya ga ? Masa sih aku harus kehilangan teman yang udah setia puluhan tahun cuma gara-gara satu orang masuk dalam kehidupanku dalam bentuk pernikahan.  Dikabulin ya Rabb, pleasee…. ?
  1. Kharismatic, means dia punya inner “power” yang bikin I always admire and honor him. Not complicated kok… Biasanya orang yang punya kekuatan ini, tanpa dia ngomongpun orang dah ngerti yang diingikannya and tanpa harus disuruh must obey him. Eit jangan salah, kharisma totally different with otoriter.
  1. Sehat lahir dan batin. Aku belum se – shaleha muslimah lain hingga ini juga jadi pertimbangan. Lain lagi klo dah jadi suami… Saat dia dapat ujian sakit, tugas kitalah ngerawatnya, with full of love, of course.  Insya Allah…

Termasuk juga ga Bau Badan, ga Bau Mulut, Bau Kaki, ga Bau rokok, dst … orang yang ngerokok susah kan ya dikategorikan pada sehat lahir dan batin J.

  1. Good looking. Bukan berarti harus handsome seperti Richard Gere karena sekali lagi klo Aku udah love, dia pasti akan jadi the most handsome man for me. At least, dia terlihat ganteng di antara yang jelek dan tidak terlihat jelek di antara yang ganteng… Hehehe.. ga kayak gitu juga. Standar aja lah…. Yang penting dia ga minder jalan di samping Aku… hahaha ini mah kepedean ya ?
  1. SINGLE alias ga sedang terikat pernikahan dengan perempuan lain. (penting… penting… dan sangat penting !)

Eit, ada yang protes ya ? Apa ? Standarku ketinggian ? … Masa sih ?

Bukankah 9 sifat di atas (kecuali single) emang dimiliki setiap manusia ? Hanya kadarnya kok yang ngebedain. Nah, kadar ini akan ditentukan oleh KLIK ato ga nya aku and the man with 10 criteria tersebut. Lebih gampangnya mah gini : SEIMAN, SINGLE dan hatiku bilang “THIS IS THE MAN that  I HAVE BEEN LOOKING FOR”. Manusia sah aja punya kriteria istri/suami idaman, TAKDIR kan tetap MILIK ALLAH.

Biar aja orang mau protes tentang kriteria yang aku ajuin (lagian aku udah nemu orang dengan 10 kriteria di atas kok). Masa mau masuk perguruan tinggi atau melamar kerja yang hanya untuk sekian tahun, orang boleh memaksa kita untuk menjalani seleksi sesuai dengan kriteria yang mereka butuhin, trus kita yang mau terikat kontrak seumur hidup (insya Allah.. Amin) dengan pasangan hidup ga boleh punya kriteria sih ? Aneh banget jalan pikirannya klo gitu.

Kita ada di atas dunia sebagai MANUSIA saja sudah dianggap berkualitas, trus ketika diberi kasih sayang, dirawat dan dididik oleh ortu .. kualitas kita sebagai manusia makin meningkat donk, ditambah lagi banyak potensi yang dititipkan Allah… makin lagi donk kualitas kita nambah………  Masa hanya karena dituntut untuk MENIKAH, kita harus menurunkan kualitas. Buat aku MENIKAH harus membuat kualitas pribadi, hidup dan imanku semakin MENINGKAT. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan nikmat hidup yang diberikan Allah, maka MENINGKATKAN KUALITAS atau setidaknya MENJAGA KUALITAS aku artikan sebagai WUJUD SYUKUR kepada ALLAH.

Begitu teman….  Jangan pusing oleh JODOH selagi kita tetap berniat, berikhtiar dan berdoa. Peduli amat kata orang… Yang paling penting adalah IKUTI KATA HATI YANG TERPATRI KUAT DENGAN YANG MEMILIKI HATI.. yaitu ALLAH, SANG KHALIK.  Amin

patrarinadewi.multiply.com

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori