Hidupkan Cinta dengan Panggilan Sayang
DALAM hidup berumah tangga, apalagi ketika usia perkawinan yang sudah lama, sering kali pasangan merasakan kejenuhan. Jika sudah begitu, masalah yag sepele akan dianggap serius oleh salah satu pihak, dan pertengkaran pun terjadilah.
Sebenarya banyak cara pasangan suami istri untuk memperbaiki atau menghangatkan kembali hubungan dalam perkawinannya. Mungkin saja pasangan merencanakan kembali bulan madu kedua, atau sekadar pergi menonton berdua.
Namun untuk mempererat hubungan suami istri atau memberi makna istimewa terhadap hubungan tersebut bisa juga dengan cara yang terlihat lebih sederhana. Salah satunya adalah dengan menggunakan panggilan sayang terhadap pasangan, seperti layaknya orang yang sedang berpacaran.
Panggilan sayang suami terhadap isteri atau isteri terhadap suami, ternyata memberi dampak yang sangat luar biasa bagi kehidupan berumah tangga. Bagi pasangan suami isteri (pasutri) yang baru menikah, panggilan sayang akan lebih mendekatkan satu sama lain. Hubungan keduanya pun akan terasa tanpa jarak yang kaku. Sedangkan bagi pasutri yang sudah lama berumah tangga, panggilan sayang dapat menghidupkan kembali cinta yang mungkin sudah terasa sangat biasa. Akan tetapi dalam menentukan panggilan sayang itu ada beberapa hal yang hendaknya diperhatikan.
Psikolog Dra. Selly Mahliyani, S.Psi. dari Rumah Sakit Al Islam Bandung menyatakan, paling tidak ada dua hal penting yang harus dipertimbangkan pada saat pasutri akan memberi panggilan sayang kepada pasangannya.
Pertama, panggilan sayang untuk suami, sebaiknya gunakan nama yang lebih memberi kesan respek pada pria. Pasalnya, kata Selly, pria berbeda dengan wanita. Pria lebih senang dengan panggilan nama yang merujuk pada kepemimpinan, pelindung, dan pemberi rasa nyaman. Sedangkan perempuan yang katanya lebih peka perasaannya justru senang dengan nama-nama panggilan yang mengesankan cinta seperti “honey”, “sayang”, “cinta”, dll.
Kedua, perhatikan kultur pasangan. Ada beberapa kultur tertentu yang justru kurang menerima bila seseorang, terutama suami dipanggil dengan sebutan nama. Contohnya dalam kultur Sunda dan Jawa. Keduanya sangat jarang memanggil pasangan dengan sebutan nama langsung. “Kesan yang muncul terlalu berani, kurang sopan,” ujar Selly menjelaskan.
Kendati demikian, ada beberapa pasangan — biasanya dari kalangan pasangan muda– yang justru merasa lebih egaliter dengan cara memanggil nama pasangan masing-masing. “Tapi kalau memanggilnya di depan anak-anak kan sepertinya kurang sopan,” ujar Selly yang mewanti-wanti harus memerhatikan betul masalah panggilan sayang ini.
Tidak melecehkan
Ada beberapa pasangan yang menggunakan panggilan sayang dengan nama-nama yang terkesan melecehkan secara fisik. Seperti “Ndut”, “Jahe” (raja hees atau jago tidur), dll. Panggilan-panggilan seperti itu menurut Selly, harus dibuang jauh-jauh. Karena justru akan menjatuhkan satu sama lain. “Tidak ada lagi penghargaan dan ungkapan sayang,” ujarnya tegas.
Menurutnya, panggilan sayang suami isteri sudah dicontohkan Rasulullah Saw kepada Aisyah. “Karena Aisyah pipinya selalu tampak kemerahan, maka Rasulullah memanggilnya dengan sebutan Khumaira. Walau berkenaan dengan fisik tetapi ada kesan sayang,” ujar Selly.
Panggilan sayang, kata Selly, bukan saja dapat menghidupkan kembali cinta yang mungkin sudah mulai “redup”. Tetapi juga dapat menguatkan ikatan pernikahan. Bahkan, dalam panggilan sayang juga terdapat semacam afeksi sehingga satu sama lain akan merasa lebih nyaman bila pasangannya memanggil dengan panggilan sayang tersebut.
“Apalagi penghargaan. Nama itu kan identik dengan penghargaan. Bila nama yang disebutkan itu adalah panggilan sayang, maka seseorang bukan saja akan merasa dilindungi, nyaman, tetapi juga merasa dihargai,” imbuhnya.
Selain ungkapan-ungkapan cinta dan kasih sayang, panggilan sayang juga dapat diambil dari peristiwa-peristiwa atau sejarah perjalanan cinta pasangan yang paling berkesan dan berarti. Misalnya saat pertemuan pasangan itu Juni, pasutri tersebut bisa memanggil suaminya dengan sebutan Juni atau lainnya.
Pokoknya, kata Selly, panggilan-panggilan itu harus menumbuhkan penghargaan satu sama lain. Sehingga pada saat nama itu disebutkan, setiap pasangan akan merasakan cinta selalu tumbuh, bahagia, dan nyaman berada di sampingnya.
Nah, apakah Anda sudah mempunyai nama panggilan sayang untuk pasangan? Jika belum, ingat-ingatlah lagi apa momen paling spesial pasangan Anda. Siapa tahu dengan Anda memberi nama baru kepada pasangan, cinta Anda terhadap si dia akan kembali tumbuh atau bahkan menghangat selamanya. Sumber: (Eriyanti/”PR”)***
